Selasa, 04 November 2008

Google

Google
http://makalahkonsepkeluarga.blogspot.com/" id="cse-search-box">

Minggu, 22 Juni 2008

ILMU PENYAKIT ANAK

ILMU PENYAKIT ANAK


Pertusis disebut sebagai tussis quinta, whooping cough, batuk rejan. Penyebab pertusis adalah bordetella pertusis atau haomophilus pertusis. Bordetella pertussis adalah suatu kuman tidak bergerak, gram negative dan did apatkan dengan cara melakukan pengambilan usapan pada daerah nasofaring pasien pertusis kemudian ditanam pada agar media bordet-gangou.
Penyakit ini tersebar diseluruh dunia. Ditempat yang padat penduduknya dpaat berupa epidemic pada anak. Infeksi pada satu keluarga akan cepat menjalar pada keluarga lainnya. Pertusis dapat mengenai semua golongan umur, tidak ada kekebalan pasif dari ibu. Penyakit ini banyak mengenai anak umur 1-5 tahun dan lebih banyak anak laki-laki dari pada anak wanita. Cara penularan melalui kontak dnegan pasien pertusis. Pemberian imunisasi dapat mengurangi angka kejadian dan kemudian yang disebabkan pertusis.

PATOLOGI
Lesi biasanya terdapat pad abronkus dan bronkiolus, tetapi terdapat perubahan. Perubahan pada selaput lender trakea, laring dan nasofaring. Lesi berupa nekrosis bagian basah dan tengah sel epitel torak, disertai infiltrate neurotrofil dan makrofag lender yang terebntuk dapat menyumbat bronkus kecil hingga dapat menimbulkan emfisema dan atelektosis.

PROGNOSIS
Prognosis pertusis bergantung ada tidaknya komplikasi, terutama komplikasi paru dan susunan saraf yang sangat berbahaya khususnya pada bayi dan anak kecil.
KOMPLIKASI
Komplikasi dari pertusis adalah sebagai berikut :
1. Alat pernafasan
Dapat terjadi otitis media (sering pada bayi), bronchitis, bronkopneumonia, atelektasis yang disebabkan sumbatan mucus, emfisema (dapat terjadi emfisema mediastinum,leher, kulit pada kaswus yang berat) bronkrektasis sedangkan tuberculosis yang sebelumnya telah ada dapat menjadi bertambah berat.

2. Alat Pencernaan
Muntah-muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi (anak menjadi kurus sekali) prolaps rectum atau hernia yang mungkin timbul karena tingginyua tekanan intra abdominal, ulkus pada ujung lidah karena tergosok pada gigi atau tergigik waktu serangan batuk, juga stomatitis.

3. Susunan syaraf
Kejang dapat timbul karena gangguan keseimbangan elektrolit akibat muntah-muntah. Kadang-kadang terdapat kongesti dan edema pada otak, mungkin pula terjadi perdarahan otak.

PENCEGAHAN
Pencegahan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
1. Secara aktif, dengan memberikan vaksin pertusis dalam jumlah 12 unit dibagi dengan dosis interval 8 minggu.
2. Secara pasif, pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan kemoprofilaksis.


GAMBARAN KLINIK
Massa tunas 7-14 hari, penyakit dapat berlangsung sampai 6 minggu atau lebih dan terbagi dalam 3 stadium, yaitu :
1. Stadium kataralis
Lamanya 1-2 minggu. Pada permulaan hanya berupa batuk-batuk ringan terutama pada malam hari. Batuk-batuk ini makin lama makin bertambah berat dan terjadi siang dan malam. Gejala lain adalah pilek, serak dan anoreksia. Stadium ini menyerupai influenza biasa.

2. Stadium spasmodic
Lamanya 2-4 minggu. Pada akhir minggu batuk makin bertambah berat dan terjadi proksismal berupa batuk-batuk khas. Pasien tampak berkeringat, pembuluh darah leher dan muka melebar. Batuk sedemikian beratnya hingga pasien tapak gelisah dengan muka merah dan sianotik. Serangan batuk panjang, tidak ada inspirium diantaranya dan diakhiri dengan whoop (tarikan napas panjang dan dalam berbunyi melengking). Sering disertai muntah dan banyak sputum yang kental. Anak dapat terberak-berak dan terkencing-kencing. Aktivitas seperti tertawa dan menangis dapat menimbulkan serangan batuk.

3. Stadium konvalensi
Lamanya kira-kira 2 minggu sampai sembuh. Pada minggu keempat jumlah dan beratnya serangan batuk berkurang, juga muntah berkurang pula, nafsu makan timbul kembali. Ronki difus yang terdapat pada stadium spasmodic mulai menghilang. Infeksi semacam common cold dapat menimbulkan serangan batuk lagi. Bila menjumpai pasien dengan batuk sudah lama dan telah diberi obat tidak ada perbaikan. Apalagi terdapat keluhan batuk makin panjang disertai muntah pada akhir batuk dan suara melengking dapat diduga bahwa pasien menderita pertusis.


PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pada stadium kataralis dan permulaan stadium spasmodic jumlah leukosit meninggi kadang smapai 15000-45.000 per mm3 dengan limfosis, diagnosis dapat diperkuat dengan mengisolasi kuman dari sekresi jalan nafas yang dikeluarkan pada waktu batuk. Secara laboratorium diagnosis pertusis dapat ditentukan berdasrkan adanya kuman dalam biakan atau dengan pemeriksaan imunofluresen.

PENATALAKSANAAN
Medik
1. Antibiotik
a. Eritromisin dengan dosis 50 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis. Obat ini menghilangkan B. Pertusis dari nasofaring dalam 2-6 hari.
b. Amphisilin dengan dosis 100 mg/kg BB/hari dibagi 4 dosis
c. Lain-lain, kloramfenikol, tetrasiklin : Kotrimoksazol.
2. Imunoglubulin
3. Ekspektoransia dan mukolitik
4. Kodein diberikan bila terdapat batuk-batuk berat
5. Luminal sebagai sedative.